Paket Umroh Terbaru

Travel Umroh Resmi Depag RI

Promo Paket Umroh Murah 2017

Paket Umroh Maret 2017

Paket Umroh April 2017

Biaya Umroh Mei 2017

Situs Resmi Umroh Ramadhan

 

 

banner_rekening al hijaz.png banner_al haromal hijaz umro depag.jpg banner_mubarak Plaza umroh depag.jpg banner_muhtara international umroh depag.jpg banner_pull man umrohdepag.jpg banner_umroh-langsung-madinah.png banner_ROMBONGAN UMROH AL HIJAZ 17 DES 16.jpg

TRAVEL UMROH RAMADHAN DEPOK

travel umroh ramadhan depok, Kami bagian travel nan dan mengirim umroh setiap bulan dengan resmi, travel umroh ramadhan depok

travel umroh ramadhan depok, umroh aman adalah solusi untuk sayaat ini bukan umroh murah yang kenyataan nya banyak keberangkatan di batalkan. Pilih umroh dengan izin umroh agar lebih terjamin travel umroh ramadhan

travel umroh ramadhan depok


Saco-Indonesia.com - Hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 saat mengudara di atas Laut China Selatan mengejutkan banyak pihak. Pesawat yang tengah melakukan penerbangan menuju Beijing, China ini tak pernah sampai ke tempat tujuan. Tujuh negara di dunia lantas ikut memberi bantuan, berbagai armada kapal perang maupun pesawat militer pun ikut dikerahkan. Namun, sejak dikabarkan menghilang pada Minggu (9/2) lalu, tim SAR belum berhasil menemukan tanda-tanda jatuhnya pesawat itu. Ternyata, proses pencarian itu tak hanya melibatkan tim SAR yang dikerahkan dari tujuh negara. Seorang dukun terkenal asal Malaysia pun ikut melibatkan diri dalam pencarian tersebut. Adalah Ibrahim Mat Zin, pria berusia 80 tahun. Lengkap dengan jas dan dasi warna merah melakukan ritual di pintu masuk ruang VIP Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA). Pemandangan ini menjadi perhatian setiap orang dan calon penumpang yang berada di dalam bandara. Sejumlah media setempat pun ikut meliput. Bermodalkan bambu dan replika pesawat yang terbuat dari rotan, Ibrahim lantas melakukan ritual singkat. Melalui teropong bambu, dia menyatakan pesawat itu terjebak di alam gaib. "Saya tidak dapat menjelaskan secara terperinci soal keselamatan mereka (penumpang), tetapi percaya pesawat itu mungkin berada antara dua alam atau disembunyikan di alam gaib," kata dia. Lalu siapakah Ibrahim Mat Zin? Penelusuran merdeka.com, Ibrahim memiliki gelar Datok Mahaguru. Tak hanya itu, ia juga menyandang gelar Raja Dukun di Malaysia. Raja dukun ini mengklaim telah berpengalaman 50 tahun di dunia gaib. Namanya mulai dikenal masyarakat Malaysia ketika menawarkan bantuan pencarian korban pada sejumlah kasus besar, di antaranya runtuhnya Highland Tower, banjir Kuala Dipang dan kasus pembunuhan pakar politik yang melibatkan Mona Fendy. Melalui aku facebook miliknya, Ibrahim mengaku mendapatkan keahliannya dari sebuah ritual khusus saat masih berusia 10 tahun, yakni melalui tujuh ujian berat. Cara pertama yang dilakukannya adalah melakukan pertapaan selama 100 hari. Selama pertapaan itu, dia diwajibkan memakan jagung sehari sepotong serta seteguk air zam-zam yang keluar dari dalam gua. Selama pertapaannya, Ibrahim mendapat tujuh godaan, yakni munculnya berbagai binatang, seperti katak, ular, kalajengking, beruang, harimau dan naga. Selama pertapaannya, sempat muncul sesosok perempuan cantik yang sedang menikmati masakan lezat. "Kalau (ikut) makan, batal pertapaan itu," tulis Ibrahim. Tak hanya memperkenalkan diri melalui Facebook, Ibrahim juga rajin membuat video tentang dirinya sendiri. Video tersebut diunggahnya di situs berbagi Youtube. Salah satu videonya yang berjudul 'Jasa & Bakti Raja Bomoh Kepada Negara Malaysia' itu, Ibrahim mengaku sudah berbakti pada negerinya sejak 1949. Dia mengklaim ramalannya soal kemenangan Barisan Nasional pada pemilu di Malaysia terbukti.   Editor : Maulana Lee Sumber : merdeka.com
 saco-indonesia.com, TIDAK SEMUANYA ANAK JALANAN MALAS     Suatu hari aku bermobil dengan beberapa teman. Di hampir setiap perempatan yang dilewati selalu ada sekumpulan orang. Mereka itu ngamen, ngemis, bawa bulu-bulu untuk membersihkan kaca mobil, jual koran, dsb. Kayaknya itu sudah menjadi pemandangan biasa di jalanan. Di salah satu perempatan, ketika berhenti karena lampu lagi merah, seorang teman tiba-tiba berkomentar, “Orang-orang itu malas banget. Mestinya mereka bisa bekerja dengan lumrah, bukannya malas-malasan ngemis dan nodongin orang.” Komentar yang juga lumrah. Mereka itu tampak sehat walaupun dekil. Spontan aku turunkan kaca mobil. Kupanggil salah satu anak yang lagi mendekat membawa ecek-ecek dari tutup botol. “Bang, temenku ini mau omong,” panggilku. Temanku kaget. Pandangan melotot mengandung ancaman diarahkan kepadaku. Tetapi, dia mengulang celutukannya tadi. Dengan kalimat yang lebih sopan, tentunya. Si anak remaja itu dengan tenang mengulurkan tangan tertadah ke dalam mobil dan berkata, “Kalau Oom bisa memberi saya pekerjaan…apa pun…cabutin rumput, ngurusin sampah, bersihin wc…akan saya kerjakan, Oom.” Di depan, lampu hijau menyala. Tidak ada waktu lagi buat ngobrol, diskusi, atau pun rapat. Kuletakkan dua logam limaratusan di tangannya sembari pamit dan cabut. Sambil mengemudi, kurasakan kata-kata si remaja tadi menghantami benakku. Betapa sering aku sendiri menggeneralisasi orang-orang ini. Berada di jalanan berarti malas, tidak mau cari pekerjaan yang layak, tidak mau kerja keras, memilih cara yang gampang untuk cari duit, dst. Vonis yang kayaknya terlalu pagi. Bisa jadi dari antara mereka memang ada yang seperti itu. Tapi, mestinya ada juga orang-orang yang sudah berusaha – dengan cara mereka – dan selalu ketemu jalan buntu. Pasti ada pula yang memang sungguh terdesak dan jalanan menjadi solusi. Aku jadi ingat anak-anakku. Kebanyakan dari mereka berada di jalanan bukan karena malas. Ada yang lari karena tidak diakui sebagai anak oleh orang tua. Ada yang orang tuanya terlalu miskin untuk menghidupi terlalu banyak anak. Beberapa sudah tidak punya orang tua. Mereka bekerja di jalanan agar tetap bisa makan. Syukur kalau masih bisa sekolah dari hasil ngamen. Aku kenal dua-tiga anak yang keluar dari sekolah dan ngamen untuk biaya sekolah adik-adik mereka. Jalanan menjadi solusi bagi orang-orang ini. Tetapi, semua fakta itu ternyata belum mempertobatkan persepsiku tentang hidup di jalanan.