Paket Umroh Terbaru

Travel Umroh Resmi Depag RI

Promo Paket Umroh Murah 2017

Paket Umroh Maret 2017

Paket Umroh April 2017

Biaya Umroh Mei 2017

Situs Resmi Umroh Ramadhan

 

 

banner_rekening al hijaz.png banner_al haromal hijaz umro depag.jpg banner_mubarak Plaza umroh depag.jpg banner_muhtara international umroh depag.jpg banner_pull man umrohdepag.jpg banner_umroh-langsung-madinah.png banner_ROMBONGAN UMROH AL HIJAZ 17 DES 16.jpg

TRAVEL UMROH MEI TAHUN 2015 JAKARTA BARAT

travel umroh mei tahun 2015 jakarta barat, Kami sama dengan travel yang meladeni dan umroh setiap bulan dengan , travel umroh mei tahun

travel umroh mei tahun 2015 jakarta barat, umroh aman adalah solusi untuk sayaat ini bukan umroh murah yang kenyataan nya banyak keberangkatan di batalkan. Pilih umroh dengan izin umroh agar lebih terjamin travel umroh mei

travel umroh mei tahun 2015 jakarta barat


saco-indonesia.com, Nahas telah menimpa Aditya Setia Budi (Adit), pelajar kelas X SMK Attahirin 2, Ciledug, Tangerang, Banten. Adit tewas setelah menjalani perawatan di RS Fatmawati, Jakarta, Selatan akibat luka bacok di kepala. Kejadian tersebut berawal saat, Jumat 31 Januari lalu sekira pukul 16.00 WIB sore, Adit bersama empat kawannya telah mengendarai sepeda motor. Saat itu, pelajar yang genap berusia 16 tahun pada 30 Januari 2014 lalu ini berniat ingin pulang dari arah Parung. "Pas di pertigaan jalan itu, ternyata ada segerombolan anak-anak SMA Bina Bangsa lagi tawuran. Melihat lagi ada ribut-ribut, Adit sama tiga orang temannya langsung mutar balik," ungkap Renita Azhari, keluarga korban kepada wartawan, Kamis (13/2/2014) malam. Adit dan rekannya telah memutar balik untuk mencari jalan yang lebih aman dan menghindari tawuran. Namun apes, tiba-tiba pelaku tawuran langsung telah melempari Adit dengan batu. Bahkan pelaku tawuran dari SMA Bina Bangsa telah mencegat dan memperlambat laju motor Adit serta ketiga temannya. "Tiba-tiba dari belakang ada yang bacok pake celurit, dan kena kepala korban (Adit)," imbuhnya. Adit segera langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh teman dan warga sekitar. Tetapi tutur Renita, karena alesan tidak jelas dua rumah sakit malah tidak menerima korban. "Akhirnya dibawa ke klinik dan dapat pertolongan pertama. Dan dirujuk ke RS Fatmawati," bebernya. Keluarga yang sudah menerima informasi itu dengan cepat langsung membawa Adit ke RS Fatmawati. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter, hasilnya korban juga harus menjalani operasi pembukaan tempurung kepala karena ada pendarahan di otak. "Setelah mengalami penderitaan selama 12 hari dalam keadaan koma Adit meninggal tanggal 10 Februari 2014 jam 23.00 WIB," ucapnya. Renita juga menuturkan, keluarga juga berharap pihak Kepolisian dapat menangani kasus ini. Bahkan juga dapat mengidentifikasi dan menangkap pelaku pembacok kepala korban. "Keluarga sudah laporan ke Polsek Ciledug. Sudah dilaporkan sejak 12 hari lalu," tutupnya. Editor : Dian Sukmawati
Saco-Indonesia.com — Polisi mulai memeriksa saksi-saksi terkait kasus pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto (19). Saksi-saksi itu di antaranya adalah orang-orang yang dimintai tolong oleh pelaku AIH (19) saat mobil yang dipakai untuk membawa mayat Ade Sara mogok hingga tiga kali. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, saat berputar-putar hendak membuang mayat korban, mobil yang ditumpangi pelaku AIH dan satu pelaku lagi, AR (18), mogok tiga kali. Saat mogok ini, AIH meminjam jumper aki ke sejumlah orang untuk menghidupkan kembali mobil KIA Visto. Namun, mobil itu mogok lagi hingga tiga kali. AIH kemudian memanggil temannya untuk meminjam aki. Teman AIH datang ke lokasi. ”Saat itu, temannya sempat melihat ada orang di dalam mobil AIH. Ia bertanya, siapa itu? Dijawab AIH, itu mayat,” kata Rikwanto. Mendapat jawaban itu, teman AI diam sebelum kemudian pergi. Setelah mesin mobil hidup kembali, pelaku pergi dengan membawa mayat korban. Rikwanto menambahkan, polisi belum menjadwalkan pemeriksaan psikologi AIH dan AR. Keduanya masih menjawab pertanyaan penyidik dengan normal. Namun, jika dibutuhkan, polisi akan menghadirkan psikolog untuk memeriksa kondisi kejiwaan kedua pelaku. Meminta maaf Keluarga Ade Sara Angelina Suroto (19) tidak hanya memaafkan tindakan pelaku yang membunuh Sara. Keluarga, melalui paman Sara, Yohanes Sutarto, juga meminta maaf jika ada tindakan dan perkataan Sara yang telah melukai kedua pelaku sehingga terjadi peristiwa pembunuhan itu. ”Kami pun tak habis pikir kenapa terjadi penganiayaan itu. Apa mungkin Sara telah melukai perasaan mereka (kedua pelaku). Kalau demikian, kami pun minta maaf,” kata Yohanes. Namun, hingga saat ini, menurut Yohanes, keluarga kedua pelaku belum ada yang meminta maaf kepada keluarga Sara. ”Ya, kami juga memahami keluarga mereka (kedua pelaku) dan keluarga kami juga tak saling kenal, melainkan anak-anaknya yang kenal,” kata Yohanes. Tak dimungkiri Yohanes, meskipun cukup tegar, orangtua Sara sesungguhnya juga terguncang, terutama ayah Sara, Suroto, yang kerap termenung pada malam hari. ”Ibunda Sara, Elizabeth, memang kelihatan jauh lebih tegar. Mudah-mudahan selanjutnya demikian,” kata Yohanes. Sensitivitas terkikis Psikolog anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, mengatakan, ada kemungkinan kedua pelaku, AIH dan AR, telah kehilangan sensitivitas dan empati. ”Mungkin, entah bagaimana, sensitivitas ataupun empati keduanya terkikis. Padahal, itu yang membatasi orang untuk tidak menyakiti orang lain,” kata Vera. Namun, menurut Vera, seseorang tidak bisa menjadi sesadis itu dalam waktu singkat. Ia yakin ada beberapa faktor yang berkontribusi memunculkan kesadisan itu. Hal ini bukan berarti membela atau mencari pembenaran dalam tindakan kedua pelaku. Namun, faktor-faktor pemicu kesadisan sebisa mungkin harus diungkap untuk menemukan akar masalahnya. Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, berpendapat, kecil kemungkinan tewasnya Sara sebagai sebuah kesengajaan dan terencana. Dua tersangka, yakni AIH dan AR, diduga kalap sehingga bereaksi secara berlebihan. Efek ini timbul karena pelaku tidak profesional. ”Reaksi berlebihan dari kedua tersangka terjadi saat korban berteriak dan bertindak di luar antisipasi sebelumnya. Cara tersangka menghentikannya kebablasan,” kata Reza. (MKN/NEL/MDN/RAY)   Sumber : Kompas.com Editor : Maulana Lee