Paket Umroh Terbaru

Travel Umroh Resmi Depag RI

Promo Paket Umroh Murah 2017

Paket Umroh Maret 2017

Paket Umroh April 2017

Biaya Umroh Mei 2017

Situs Resmi Umroh Ramadhan

 

 

banner_rekening al hijaz.png banner_al haromal hijaz umro depag.jpg banner_mubarak Plaza umroh depag.jpg banner_muhtara international umroh depag.jpg banner_pull man umrohdepag.jpg banner_umroh-langsung-madinah.png banner_ROMBONGAN UMROH AL HIJAZ 17 DES 16.jpg

TRAVEL UMROH BULAN RAMADHAN TANGERANG

travel umroh bulan ramadhan tangerang, Kami sama dengan travel melayani dan umroh setiap bulan dengan legal, travel umroh bulan ramadhan

travel umroh bulan ramadhan tangerang, umroh aman adalah solusi untuk sayaat ini bukan umroh murah yang kenyataan nya banyak keberangkatan di batalkan. Pilih umroh dengan izin umroh agar lebih terjamin travel umroh bulan

travel umroh bulan ramadhan tangerang


Salah satu bagian terpenting dalam membangun sebuah bangunan / rumah adalah dinding. Semakin majunya zaman, teknik membuat bangunan dan bahan-bahan yang di gunakan sebagi pembuat dinding rumah sangat bervariatif. Hal tersebut tidak terlepas seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta semakin minimnya sumber bahan baku berupa tanah liat sebagai bahan batu bata merah. Namun di era modern saat ini sangat beraneka ragam, mulai dari hebel, bata ringan, batako, paving dll. PEMBUATAN BATAKO PRES Batako adalah bahan banguanan yang terbuat dari campuran pasir, semen yang dicetak atau di press padat, selain itu batako juga dapat dibuat dari bahan batu tras, kapur dan air. Batako pres dibuat dari campuran semen PC dan pasir atau abu batu. Ada yang dibuat secara manual (menggunakan tangan), ada juga yang menggunakan mesin press batako. Perbedaannya bisa dilihat pada kepadatan permukaan batakonya. Umumnya memiliki ukuran panjang 36-40 cm, tebal 8–10 cm, dan tinggi 18-20 cm. Untuk dinding seluas 1 m2, kira-kira membutuhkan:     Batako pres = 15 buah     Semen PC = 0,125 sak     Pasir ayak (pasir pasang} = 0,015 m3 • Kelebihan dinding batako press:     Kedap air sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya rembesan air.     Pemasangan lebih cepat.     Penggunaan rangka beton pengakunya lebih luas, antara 9 – 12 m2. Gambar Setelah batako jadi, baik di buat dengan press cetak manual atau mesin press batako, hasilnya  secara fisik , batako memiliki rongga kosong di bagian dalamnya. Bagian tersebut berfungsi sebagai insulasi panas, juga sebagai insulasi suara. Dengan tujuan bisa menciptakan kondisi dalam ruangan yang menggunakan materi batako terasa relatif lebih sejuk dan nyaman. •  Kekurangan dinding batako pres:     Mudah terjadi retak rambut pada dinding.     Mudah dilubangi karena terdapat lubang pada bagian sisi dalamnya Kekurangan ini yang membuat sebagian orang kurang suka menggunakan batako sebagai material dinding rumahnya. Namun , kendala tersebut dapat diatasi dengan penggunaan penggantung yang bersifat suction-cup hooks dan strong-adhesive hooks yang berdaya rekat tinggi. Penggantung multi-adhesive ini memiliki sifat pemasangan dan pelepasan yang relatif mudah. Dari harganya yang murah di bandingkan dengan bata merah, bangunan yang dibuat dengan batako akan menghemat pengeluaran uang untuk membuat banguanan. Selanjutnya jika ada anggapan bahwa batako kurang kokoh, bisa di atasi dengan menambah campuran material dasar batako dengan ampas tebu. Ampas tebu tersebut akan memberikan hasil yang lebih kuat, ringan dan tahan lama serta tentunya harganya lebih terjangkau.
saco-indonesia.com, Evaluasi Tim Teknis Alsintan Di tengah derasnya produk impor alat dan mesin pertanian, alsintan produksi dalam negeri ternyata telah mampu untuk bertahan. Bahkan kini industri dalam negeri juga sudah mampu untuk memproduksi semua alsintan yang telah dibutuhkan oleh pelaku usaha. Petani pun juga lebih memilih produk dalam negeri ketimbang produk impor dari China, karena tidak dilengkapi dengan layanan purna jual. Lebih menggembirakan lagi, kini telah bermunculan pengrajin kecil alsintan di tengah eksistensi industri besar alsintan. Harapan kini telah berlanjut pada kualitas alsintan produksi mereka, yang perlu ditingkatkan, agar konsumen tidak merasa dirugikan. Pengrajin kecil alsintan juga diharapkan selalu berpedoman SNI dalam memproduksi alsintan agar bermutu baik dan mampu untuk bersaing dengan perusahaan besar. Untuk dapat mengetahui kesesuaian antara mutu alsintan yang diproduksi dengan persyaratan SNI, maka BPMA telah mengadakan kegiatan Evaluasi Tim Teknis. Produk alsintan yang telah diuji oleh laboratorium penguji akan dievaluasi kesesuaiannya dengan persyaratan SNI oleh Tim Teknis. TimTeknis yang telah terdiri dari pakar mutu alsintan yang ditunjuk berdasarkan Kepmentan No. 3775/Kpts/OT.160/9/2011. Model alsintan yang telah memenuhi SNI selanjutnya diterbitkan Surat Keterangan Kesesuaian (SKK), setelah terlebih dahulu disahkan oleh Direktur Mutu dan Standardisasi Ditjen PPHP. Kegiatan yang rutin dilaksanakan sejak tahun 2004 ini telah mengevaluasi sebanyak 354 tipe/model alsintan. Sudah 103 tipe/model alsintan yang dinyatakan berhak memperoleh Surat Keterangan Kesesuaian (SKK). Jenis alsintan yang dibahas telah mencakup Rice Polisher, Rice Milling Unit, Power Thresher, Pengering Gabah traktor roda dua, Pompa Air, Hand Sprayer, Reaper, Corn Sheller, Paddy Husker, Mesin Fogging dan Mist Blower. Terjadi indikasi adanya penurunan jumlah SKK pada tahun 2011. Penurunan ini telah disebabkan sebagian model alsintan tidak lagi menjadi bahan evaluasi Tim Teknis, tetapi dievaluasi oleh Komisi Teknis Lembaga Sertifikasi Produk (LS Pro) BPMA. Sejak terakreditasinya LS Pro Alsintan BPMA pada tahun 2010, LS Pro telah melaksanakan sidang-sidang Komisi Teknis untuk dapat memutuskan alsintan yang berhak diterbitkan Sertifikat Produk Pengguna Tanda SNI (SPPT SNI). Berbeda dengan SKK, SPPT SNI diterbitkan bagi alsintan yang selain telah memenuhi persyaratan SNI, produsen itu juga telah menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008. Sementara SKK, tidak menjadikan penerapan sistem manajemen mutu sebagai bagian persyaratannya. Sampai saat ini SKK juga masih dikeluarkan khusus bagi produsen skala kecil yang belum mampu menerapkan sistem manajemen mutu, namun alsintan yang diproduksinya telah memenuhi SNI. Diharapkan ini juga dapat memotivasi mereka agar dalam berproduksi selalu berpedoman pada SNI. Namun ke depan diharapkan pengrajin alsintan kecil pun juga mampu menerapkan sistem manajemen mutu yang standar, agar konsistensi kualitas alsintan yang diproduksi terjaga dan mampu bersaing dengan produk dari perusahaan besar. Dirat Mutu dan Standardisasi, sebagai pembina produsen alsintan, menjadi ujung tombak untuk kemajuan produsen alsintan kecil menengah ini. Editor : Dian Sukmawati